Memaknai Tradisi Bodo Kupat

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Riyoyo kupatan di sebuah kampung (sumber ilustrasi: marneskliker.com)

Riyoyo kupatan di sebuah kampung (sumber ilustrasi: marneskliker.com)

Bodo kupat atau sering disebut juga dengan “bodo kecil” atau riyoyo kupatan merupakan tradisi sebagian masyarat muslim di Jawa. Bodo kupat ditandai dengan kendurian di masjid/mushalla di pagi hari pada tanggal 8 Syawal atau tujuh hari setelah lebaran hari pertama. Dalam kendurian itu, masing-masing orang membawa ketupat dan lepet plus ubo rampe-nya seperti sayur dan lauk pauk, kemudian berdoa bersama dipimpin tokoh agama setempat, dilanjutkan makan bersama.
Tradisi ini sudah turun temurun dan masih eksis sampai sekarang. Sebagaimana tradisi lain yang ada di bulan Syawal seperti halal bi halal, tradisi bodo kupat ini mengandung makna yang dalam. Meski tradisi ini tidak secara tekstual termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, namun tentulah tradisi ini merupakan tradisi yang baik yang patut untuk dilestarikan.
Tradisi bodo kupat adalah kreasi leluhur yang cukup brilian. Sebagaimana juga tradisi lebaran di hari pertama bulan Syawal yang partikular khas Indonesia. Di Timur Tengah, tempat lahirnya Islam, tradisi lebaran tidak dijumpai. Di Indonesia-lah dijumpai tradisi bernama lebaran.
Hemat saya, ada dua lebaran selama bulan Syawal, yang keduanya sama-sama menandai “kemenangan”. Yang pertama; lebaran di tanggal 1 Syawal, yaitu lebaran Idul Fitri. Lebaran ini menandai “kemenangan” setelah sebulan lamanya berpuasa di bulan suci Ramadhan, berjibaku menahan lapar dan dahaga, juga menahan hawa nafsu. Lebaran hari pertama ini dalam tradisi kita ditandai dengan acara salam-salaman dan sungkeman, serta berkunjung ke rumah keluarga, sahabat, dan handai tolan, setelah melaksanakan Shalat Id di masjid atau di tanah lapang.
Yang kedua; lebaran kupat atau bodo kupat yang jatuh pada tanggal 8 Syawal atau tujuh hari setelah lebaran Idul Fitri. Kenapa bodo kupat jatuh pada tanggal 8 Syawal? Menurut saya, itu karena setelah hari “kemenangan” pada tanggal 1 Syawal (Idul Fitri), sebenarnya setelah itu kita dianjurkan untuk menindaklanjutinya dengan puasa sunnah selama 6 hari yang dimulai pada tanggal 2 Syawal. Karena pada tanggal 1 Syawal (Idul Fitri) justru diharamkan berpuasa.
Dengan demikian, bodo kupat yang jatuh pada tanggal 8 Syawal sebenarnya menandai “kemenangan” bagi mereka yang berpuasa enam hari di bulan Syawal, yakni sejak tanggal 2 sampai tanggal 7. Namun, makna ini jarang dipahami oleh kebanyakan kaum muslimin. Kebanyakan lebaran justru dijadikan momentum “balas dendam” dengan melahap semua makanan yang diinginkan. Bila itu yang terjadi, makna lebaran justru kontraproduktif dengan tujuan awal disyariatkannya puasa, yakni untuk membentuk pribadi bertakwa (la’allakum tattaquun).
Puasa 6 hari di bulan Syawal sendiri merupakan sunnah yang sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan meneruskannya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim).
Betapa agungnya keutamaan puasa 6 hari di bulan Syawal, karena orang yang berpuasa Ramadhan sebulan penuh, kemudian ia meneruskannya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapatkan keutamaan seperti orang yang berpuasa selama setahun. Bagaimana kita memahami hadits ini?
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dengan sanad dari Tsauban menyebutkan, “Pahala puasa sebulan Ramadhan sama dengan puasa sepuluh bulan. Dan berpuasa enam hari pahalanya sama dengan puasa dua bulan. Dengan demikian, jumlahnya adalah setahun.”
Dari hadits di atas kita memperoleh informasi, bahwa satu kali puasa dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat, sehingga puasa 1 hari pahalanya setara dengan puasa 10 hari. Maka. bila kita berpuasa di bulan Ramadhan (rata-rata 30 hari) dan kemudian meneruskannya dengan berpuasa di bulan Syawal 6 hari, itu artinya kita telah menjalankan ibadah puasa selama 36 hari. Kemudian bila dikalikan 10 sesuai hadits di atas, maka tentu kita akan mendapatkan angka 360, yang mana angka ini adalah jumlah rata-rata setahun.
Sungguh luar biasa bagi mereka yang menindaklanjuti puasa Ramadhannya dengan berpuasa 6 hari di bulan Syawal. Lalu, apakah puasa 6 hari di bulan Syawal harus dilaksanakan setelah lebaran Idul Fitri tanggal 1 Syawal? Tidak juga. Sejauh masih di bulan Syawal, kesunnahan puasa 6 hari di bulan Syawal tetap berlaku. Hanya saja, bila puasa itu dilakukan segera setelah berlalunya lebaran Idul Fitri (tanggal 1 Syawal), maka kesan puasa itu akan jauh lebih mendalam dan bermakna, karena kita berpuasa di tengah masih suasana euforia yang gegap gempita terhadap makanan.
Berangkat dari situlah, tradisi bodo kupat hemat saya menemukan konteksnya. Bodo kupat sebenarnya menandai “kemenangan” bagi mereka yang menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal segera setelah berlalunya lebaran Idul Fitri 1 Syawal.
Lalu kenapa ada kupat dan lepet? Konon, kupat dan lepet adalah simbol orang Jawa. Kupat berarti ngaku lepat atau mengaku bersalah. Dan lepet berarti disilep sing rapet atau ditutup rapat-rapat. Maksudnya, kalau kita punya salah, kita harus secara jantan mengakui kesalahan kita dan berani meminta maaf. Dan yang dimintai maaf harus mau memaafkannya dan mau secara ikhlas menutup rapat-rapat atau mengubur dalam-dalam kesalahan itu. Inilah budaya adiluhung orang Jawa yang terefleksi dalam tradisi bodo kupat.*

Categories: Perspektif | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: