Mudik, Perjalanan Merentas Silaturahmi

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

(Sumber ilustrasi: http://pplndubai.org)

(Sumber ilustrasi: http://pplndubai.org)

Suara Merdeka, edisi Kamis Legi (31/7/2014) menurunkan laporan bahwa arus lalu lintas di berbagai kota di Jawa Tengah mulai memadat. Selain arus balik, kendaraan dari arah Jakarta juga masih cukup banyak. Informasi dari National Traffic Management Center (NTMC) Polri, beberapa titik jalan mulai dipadati kendaraan bernomor polisi Jakarta.
Tentu, arus lalu lintas yang padat pada hari-hari ini berkaitan dengan tradisi mudik lebaran. Lebaran memang merupakan tradisi partikular khas Indonesia. Dimulai dari tradisi mudik yang penuh heroik, menempuh perjalanan jauh, penuh peluh dan melelahkan, baik darat, laut atau udara, untuk satu tujuan: bertemu dan berkumpul keluarga dan handai tolan. Lalu, dirayakan dengan saling berkunjung antar keluarga, handai tolan, tetangga, teman, dan sahabat.
Jalaluddin Rakhmat (1999) menyebutkan perjalanan mudik sebagai sebuah perjalanan melintas waktu. Mereka tengah membawa masa kini mereka ke masa lalu, supaya memperoleh kekuatan buat menempuh masa depan. Dengan mudik, orang-orang yang sudah kehilangan dirinya dalam hiruk pikuk kota ingin menemukan kembali masa lalunya di kampung. Mereka yang dihitung sebagai angka dan skrup kecil dalam mesin raksasa kota, ingin kembali diperlakukan sebagai manusia. Mereka ingin meninggalkan—walaupun sejenak—wajah-wajah kota yang garang untuk menikmati kembali wajah-wajah kampung yang ramah. Mereka ingin mengungkapkan kembali perasaan kekeluargaan yang menyejukkan.
Dalam bahasa agama (Islam), mudik sesungguhnya merupakan perjalanan merentas silaturahmi. Setelah sekian waktu mereka tidak berjumpa dengan sanak keluarga dan handai tolan, karena berjibaku dengan aktivitas ekonomi yang keras di kota, mereka melakukan mudik untuk menyambung kembali ikatan yang sempat terputus itu.
Silaturahmi sendiri, atau yang tepat seharusnya disebut dengan silaturahim, adalah kata majemuk yang terambil dari kata bahasa Arab, shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata washl yang berarti “menyambung” dan “menghimpun”. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh shilat ini. Nabi Saw bersabda, “Bukan silaturahmi orang yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti “kasih sayang”, kemudian berkembang sehingga berarti pula “peranakan” (kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.
Sehingga makna silaturahmi yang dikehendaki syariat sesungguhnya hanya berlaku untuk “upaya kita menyambung kembali hubungan (yang terputus) dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan kita, baik dari jalur ayah maupun ibu”.

Perintah Allah
Dalam syariat Islam, silaturahmi seperti itu bukan sekedar anjuran, tapi merupakan perintah Allah yang kedua setelah takwa. Dalam Al-Qur’an, “…..dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisaa: 1).
Rasulullah SAW bersabda, “Aku perintahkan umatku agar berbuat baik terhadap sanak keluarganya, meskipun sanak keluarganya itu terpisah darinya oleh jarak perjalanan satu tahun, mereka tidak boleh memutuskan tali kekeluargaan.
Sebagai konsekuensi dari perintah tersebut, Allah dan Rasul-Nya memberikan sanksi yang berat bagi para pemutus tali silaturahmi. Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR. Bukhari).
Sahabat Abdullah bin Auf RA bercerita, suatu hari saat dirinya dan para sahabat lainnya sedang duduk berkumpul dengan Nabi SAW beliau bersabda, “Jangan ikut berkumpul orang yang memutuskan tali silaturahmi.”
Berdirilah seorang pemuda, keluar dari majelis dan bergegas pergi menuju rumah bibinya. Rupanya sang pemuda sudah sekian lama bermusuhan dengan bibinya hingga putus silaturahmi di antara mereka.
Setelah keduanya saling memaafkan, pemuda itu kembali ke majelis Rasulullah, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya rahmat (kasih sayang) tidak akan turun kepada kaum yang di dalamnya ada orang yang memutus tali silaturahmi.” (HR. ath-Thabrani).
Begitulah, syariat Islam mengajarkan kebaikan-kebaikan yang menjadi dasar bagi pembentukan pribadi yang baik, yang mendukung harmonisasi sosial; dan mencegah timbulnya keburukan-keburukan yang dapat merusak harmonisasi sosial.
Orang-orang yang mempunyai hubungan darah melalui ibu dan bapak merupakan sumber alamiah ikatan-ikatan sosial. Hubungan darah atau nasab menjadikan seseorang anggota dari suatu keluarga besar. Mengingat kesatuan alamiah ini, Islam memerintahkan pemeluk-pemeluknya agar senantiasa bersikap baik terhadap sanak saudara mereka dan menjaga tali silaturahmi di antara mereka. Pemutusan hubungan tali silaturahmi akan merusak sendi-sendi sosial, mengganggu keharmonisan, dan menghambat turunnya kasih sayang (rahmat) Allah SWT.
Bagaimana silaturahmi dilakukan? Banyak yang bisa dilakukan. Mengucap salam, mengunjungi mereka, menanyakan kabar, berbuat baik, mengalokasikan sedekah bila saudaranya dalam keadaan fakir atau miskin, dan lain sebagainya. Nabi SAW bersabda, “Sambunglah tali silaturahmi di antara kalian walau dengan ucapan salam.” (HR. Al-Bazzar).
Nabi SAW juga bersabda, “Barangsiapa mempunyai kerabat yang lemah (ekonominya), lalu tidak berbuat baik dan mengalokasikan sedekahnya kepada selain mereka, niscaya Allah tidak akan menerima sedekahnya dan tidak akan memandangnya pada hari kiamat. Sedangkan barangsiapa dalam keadaan fakir, hendaknya menyambung (silaturahmi) dengan mengunjungi mereka dan selalu menanyakan kabar mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mudik, lalu berkumpul, bergembira, saling menyapa, saling bersalaman, saling memaafkan, saling mengunjungi, dan saling memberi, adalah bentuk-bentuk silaturahmi dalam bingkai kebahagiaan di hari lebaran. Maka benarlah yang menyatakan, lebaran adalah kreasi bangsa yang menakjubkan.*

Categories: Perspektif | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: