Saat Muslimah “Harus” Jadi Ummahat Kreatif

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Istri cerdik dan shalihah
Penyejuk mata, penawar hati, penajam pikiran
Di rumah ia istri, di jalanan kawan
Di waktu kita buntu, dia penunjuk jalan

Kreativitas seorang istri dalam menciptakan rumah tangga surgawi sangat besar. (Sumber ilustrasi: http://www.zawaj.com)

Kreativitas seorang istri dalam menciptakan rumah tangga surgawi sangat besar. (Sumber ilustrasi: http://www.zawaj.com)

Farid boleh jadi lelaki beruntung mendapatkan istri seperti Shinta. Sudah berparas cantik, kreatif pula. Tidak hanya pintar menata rumah, tapi Shinta juga pintar memasak. Bahan-bahan sederhana seperti singkong saja, di tangan Shinta dapat diolah menjadi menu makanan yang variatif dan sudah barang tentu menggugah selera.
Makanya, ketika badai PHK menerpa, dan Farid harus kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi gantungan kebutuhan sehari-hari bersama istri tercintanya, tak sedikitpun membuat oleng biduk rumah tangga pasangan muda ini. Pasalnya, kedua pasangan ini sudah terbiasa hidup dalam balutan pola yang sederhana. Dan dalam hal ini, peran Shinta sangatlah penting. Berkat Shinta yang kreatif, kebiasaan makan Farid semasa bujang yang “selera restoran”, misalnya, dapat dihentikan. Kepiawaian Shinta memasak membuat Farid nggak bisa berpaling ke masakan yang lain (ehm…). Itu membuat anggaran bulanan dapat diirit sedemikian rupa.
Nggak hanya itu, Shinta juga piawai menata rumah. Meski mereka masih tinggal di kontrakan sempit, berkat kreativitas Shinta, rumah itu menjadi hunian yang cukup nyaman. Shinta, misalnya, sering membuat surprise kepada Farid soal perubahan letak perabot rumah. Sehingga rumah sempit itu bagai terasa luas. Selalu terasa ada suasana baru yang menghadirkan kegembiraan tersendiri. Rumah sempit itu pun menjelma bagai surga yang memberikan sejuta kenyamanan.
Tak aneh kalau di mata Farid, Shinta istrinya adalah bagai sosok yang dilukiskan dalam bait-bait nasyid “Istri Shalihah”-nya The Zikr yang petikan baitnya dikutip di atas.

* * *
Marie von Ebner-Eschenbach seperti dikutip Muhammad Fauzil Adhim dalam bukunya Agar Cinta Bersemi Indah pernah berkata, “Seandainya di dunia ini ada surga, surga itu adalah pernikahan yang bahagia.” Akan tetapi, bila ada neraka, ia adalah rumah tangga yang hancur berantakan; rumah tangga di mana anak-anak lari meninggalkan rumah, sementara orangtua tak betah berada di rumah berlama-lama.
Rumah-rumah tipe yang terakhirlah kini banyak kita temukan di panggung kehidupan modern. Rumah-rumah bagai neraka yang tiada memberi kenyamanan bagi segenap penghuninya. Rumah yang seharusnya menjadi surga tempat labuhan kasih bermuara, malah menjadi neraka yang penuh pengap dan menyiksa jiwa.
Rasulullah SAW, teladan kita, telah menunjukkan secara cemerlang bagaimana membangun mahligai rumah tangga bagai surga. Rasulullah SAW bersaksi tentang rumah tangganya dengan untaian kata sederhana ‘baiti jannati’ (rumahku surgaku).
Suasana surgawi itu tiada terbangun dari bangunan rumah yang megah, perabot rumah yang serba mewah, dan hidangan yang serba ‘wah’. Jika rumah yang megah dan perobot yang mewah penyebab timbulnya sakinah, tak akan ada kisah indah yang dapat kita petik dari pernikahan Rasulullah SAW. Sebab, tak ada perlengkapan rumah yang bisa disebut mewah. Tempat tidur Nabi SAW hanyalah pelepah kurma yang disusun sehingga bekasnya tampak di pipi setiap kali beliau bangun tidur.
Hidangan di keluarga Nabi pun sederhana. Makan hanya sekedarnya saja, bahkan beliau sering kekurangan makanan sehingga memaksanya berpuasa. Anas bin Malik bercerita: “Sesungguhnya tidak pernah terdapat dalam makan siang Rasulullah atau makan malamnya, roti dan daging, kecuali sangat sedikit dan kekurangan.” (HR. Tirmidzi).
Tipologi rumah nabi sendiri adalah tipologi rumah sederhana, tidak ada kehidupan bermewah-mewahan di dalam atau di sekitar lingkungan rumahnya. Rumahnya kecil berderet seperti kamar-kamar atau hujurat. Di rumah yang kecil-kecil milik istri Nabi tinggal dengan penuh kesederhanaan dan kedamaian. Nabi mendatangi rumah-rumah ini secara bergiliran dengan penjadwalan yang rapi. Para istrinya hidup dalam kesederhanaan ekonomi.
Namun dari kesederhanaan itulah terpancar suasana surga di dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah. Suasana sakinah (tentram), mawaddah (saling mencintai), dan rahmah (saling menyayangi).

* * *
Saat ini, saat jaman semakin modern, dan pergulatan hidup semakin ganas, cita-cita membangun mahligai rumah tangga bagai surga membutuhkan komitmen yang kuat, tidak hanya dari suami atau istri secara sepihak, tapi harus dari kedua-duanya. Pembagian peran, tugas, dan tanggungjawab masing-masing secara jelas akan membantu merealisasikan itu.
Suami bekerja banting-tulang untuk menafkahi keluarga, sedang istri di rumah me-manage rumah tangga dengan penuh tanggungjawab, akan membentuk sebuah harmoni yang indah. Sayangnya, saat ini banyak para istri muslimah yang gagap dan kurang memiliki keprigelan dalam persoalan-persoalan rumah tangga, terutama persoalan yang bersifat teknis. Hal itu karena umumnya para muslimah kita dewasa ini kurang melengkapi diri dengan kemampuan mengurus persoalan-persolan teknis rumah tangga. Ketika muda mereka sibuk berkutat dengan buku-buku referensi dan tugas kuliah. Sehingga mereka gagap ketika memasuki dunia rumah tangga yang pekat dengan persoalan teknis.
Boleh jadi, sebagai seorang istri, banyak yang sudah sangat paham bagaimana kriteria istri yang shalihah menurut Islam. Yang jadi masalah, bagaimana pengetahuan yang bersifat teoritis-konseptual itu teraplikasikan dalam kehidupan riil di rumah tangga? Ternyata ada banyak hal teknis yang menghadang yang bila tak terbiasa akan menimbulkan kemalasan.
Persoalan-persoalan teknis seperti mengepel lantai, memelihara perabot rumah tangga, belanja, memasak, merawat anak, dan bejibun pekerjaan rumah tangga yang lain, akan membuat mereka menyerah dan seringkali membuat mereka memilih membiarkan rumah “apa adanya”. Padahal, kreatifitas seorang istri mengelola rumah tangga, memberi peranan yang penting dalam menghadirkan suasana “surga” di rumah tangga.
Khalid Ahmad Asy-Syantuh dalam bukunya Pendidikan Anak Putri dalam Keluarga Muslim mengatakan, wanita merupakan pondasi pertama untuk membangun suatu keluarga. Dialah yang mendidik anak dan merupakan poros evolusi keluarga. Kepadanya seorang suami kembali untuk menenangkan semua ketegangan syarafnya, mendapatkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati. Dari tubuhnya, seorang bayi akan lahir. Di bawah kepak sayapnya, bayi itu tumbuh menjadi besar. Wanita adalah tiang penyangga rumah tangga, sebagai ibu sekaligus istri. Suatu rumah tangga tidak akan memiliki tiang penyangga bila tidak ada wanitanya.
Karena itu, tidak ada salahnya, bahkan boleh jadi “wajib” hukumnya bagi seorang istri untuk membekali diri dengan keprigelan dalam mengurusi pernik-pernik pekerjaan rumah tangga. Di zaman kehidupan Rasulullah, gadis-gadis telah mendapatkan pelajaran mengenai kehidupan berkeluarga sebelum mereka baligh. Sehingga ketika datang saat baligh, mereka telah dewasa dan siap untuk menjalani hidup di medan kehidupan rumah tangga.
Dalam Islam, aktivitas dalam rumah tangga merupakan salah satu bentuk ibadah yang dapat mendekatkan seorang ummahat (ibu rumah tangga) kepada Allah SWT, baik aktivitas itu diberikan untuk suami, anak-anak, maupun orang tuanya. Ia menggunakan waktunya untuk membantu anggota keluarga yang lain sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Asma’ binti Abu Bakar RA. Diceritakan, bahwa Asma’ senantiasa menyediakan makanan bagi suaminya, Zubair bin Awwam, menyiapkan bekalnya, dan melepas kepergiannya. Ia juga menumbuk biji yang matang dan menyiramkan air serta membikin adonan.
Jasim Badr Al-Munthawi’ dalam bukunya Menggapai Cinta Suami-Istri menyebutkan, bahwa itulah ibadah seorang istri dalam rumah tangga, sehingga Anda akan menjumpainya senantiasa:

-menata rumah (terutama perkakas kerja suami),
-memelihara bunga dan burung piaraan suami atau hewan-hewan piaraan lainnya, jika ada,
-mengubah tata ruang dari waktu ke waktu,
-menyiapkan makan pagi, siang, dan malam untuk anggota keluarga,
-piawai dalam bertutur kata dan berbudi bahasa di hadapan suaminya, dan sebagainya.

Lebih baik lagi, lanjut Jasim, jika ia melakukan aktivitas-aktivitas ta’abudiyah seperti di atas, diiringi juga dengan aktivitas keimanan seperti zikrullah, doa, dan membaca Al-Qur’an, sehingga Allah melipatgandakan pahalanya. Sebagaimana yang dilakukan Fatimah RA—putri Nabi Muhammad SAW, seperti yang dideskripsikan penyair Muhammad Iqbal berikut ini:

Lisannya melantunkan ayat-ayat Rabb-nya
Sedang tangannya sibuk mengaduk adonan
Bantalan sandaran tidurnya basah oleh linangan air matanya
Yang deras mengalir karena khasyyah dan ketakwaannya

Selain itu, ingatlah sabda Rasulullah Saw: “Wanita (istri) itu adalah pemimpin di rumah suaminya dan bakal ditanya tentang kepemimpinannya itu serta tentang harta suaminya.” (HR. Bukhari dan Muslim). *

*) Artikel ini dimuat di majalah Suara Hidayatullah, edisi April 2008.

Categories: Baiti Jannati | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: