Puasa, Solusi Sehat dan Terapi Penyakit

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Sumber ilustrasi: herbalonfocus.blogspot.com

Sumber ilustrasi: herbalonfocus.blogspot.com

Dalam Islam, puasa adalah menahan makan dan minum, serta bersenggama di siang hari, dari mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari (maghrib). Tidak sekadar itu, puasa dalam Islam juga menahan diri dari perkara-perkara yang merusak pahala puasa seperti marah, menggunjing, mengumpat, dusta, dan sebagainya.
Sebuah riwayat menunjukkan praktik puasa yang dikehendaki oleh syariat Islam. Suatu hari Rasululllah SAW mendapati seorang perempuan sedang memaki-maki budaknya, padahal diketahui perempuan itu sedang berpuasa. Rasulullah pun mengambil makanan dan berkata kepadanya, “Makanlah!”
“Saya sedang berpuasa ya Rasulullah,” kata perempuan itu.
Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW bersabda, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa padahal telah kau maki budakmu. Puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja. Allah telah menjadikan puasa sebagai penghalang juga dari hal-hal tercela, perbuatan atau perkataan yang merusak puasa. Alangkah sedikitnya yang puasa, alangkah banyaknya yang melaparkan diri saja.
Ucapan Nabi yang terakhir ma aqallash-shawwan, wa ma aktsaral-jawwa (alangkah sedikitnya yang puasa, alangkah banyaknya yang melaparkan diri saja) menunjukkan hakikat puasa dalam Islam. Puasa dalam artian seperti ini memiliki banyak manfaat bagi pelakunya. Di antaranya adalah manfaat di bidang kesehatan, sebagaimana sebuah hadits, “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ibnu As-Sunniy dan Abu Nu’aim. Hadits dha’if).
Bagaimana puasa memberikan efek bagi kesehatan? Mari kita lacak.
Di antara pantangan orang berpuasa yang dapat merusak pahala puasa adalah mengumbar emosi negatif seperti marah, iri, dengki, dendam, dan sebagainya. Rasulullah SAW mengajarkan, bila ada orang yang mencaci maki kita, memancing emosi kita, maka katakan kepadanya, “Aku sedang puasa.”
Puasa sesungguhnya melatih seseorang untuk mengelola dan mengendalikan emosinya. Karena ternyata, emosi negatif mempengaruhi kondisi fisik seseorang dan berkorelasi terhadap suatu penyakit tertentu. Dalam dunia kedokteran, penyakit yang dipicu oleh serangkaian emosi negatif disebut dengan psikosomatis. Saat pasien diperiksa dokter secara fisik tidak terjadi apa-apa di fisiknya tetapi pasien merasakan penderitaan fisik. Bisa juga emosi negatif menyerang bagian tubuh tertentu dan menyebabkan penyakit secara fisik yang amat sangat diderita oleh pasien.
Seorang ilmuwan ahli biofisika dan biokimia yang juga seorang pakar pengobatan Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid dalam bukunya at-Taghdziyah an-Nabawiyah menyatakan, tubuh mengalami perubahan sesuai dengan perubahan psikologis, misalnya marah, senang, sedih, resah, gusar, dan malu.
Marah misalnya, memiliki pengaruh langsung dan aktif pada diri manusia, di mana kondisi itu bisa berakibat pada tensi darah dan juga bisa mengakibatkan beberapa kondisi lain yang cukup berbahaya, misalnya serangan jantung, nyeri dada, dan lemah jantung.
Selain itu, marah yang berlangsung dan terus menerus dapat menyebabkan kencing manis karena bertambahnya aktivitas pada kelenjar di atas ginjal, yang pada gilirannya dapat menambah keluarnya hormon adrenalin. Kondisi psikologis seperti ini juga dapat menyebabkan lemahnya daya tahan tubuh yang dapat menyebabkan seseorang mudah terserang berbagai macam penyakit.
Di sinilah efek puasa bagi kesehatan menemukan konteksnya. Di mana seseorang yang berpuasa secara benar, membiasakan mengelola emosi dan berpikir secara positif, sesungguhnya ia telah membentuk sistem imun yang kuat dalam tubuhnya, yang dapat menangkal berbagai macam penyakit.

Detoksifikasi
Di samping itu, ternyata ketika seseorang sedang berpuasa, terjadi proses perbaikan-perbaikan kerusakan tubuh dan pembuangan toksik atau racun (detoksifikasi) dalam tubuh. Karenanya, dalam literatur sejarah kita mendapatkan fakta bahwa para ahli pengobatan menggunakan puasa sebagai terapi mengobati berbagai macam penyakit.
Dr. Husen A. Bajry, MD, Ph.D, seorang pakar pengobatan holistik, dalam bukunya Tubuh Anda adalah Dokter yang Terbaik menyebutkan bahwa Ibnu Sina (980-1037 M), seorang dokter muslim kenamaan pada masanya, menerapkan konsep puasa untuk pasien-pasiennya. Ia selalu mengharuskan setiap pasien yang datang kepadanya untuk berpuasa selama tiga minggu. Bagi Ibnu Sina, puasa merupakan terapi efektif dan murah-meriah dalam menyembuhkan penyakit pasien-pasiennya.
Bahkan di zaman modern sekarang ini, seorang dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin asal Amerika Dr. Robert Partolo, berpendapat bahwa tradisi mengosongkan perut dan menahan hawa nafsu, setelah diterapkan kepada pasien-pasiennya ternyata merupakan terapi mujarab dalam memberantas bakteri sifilis yang terkandung di dalam tubuh mereka. Dengan berpuasa, bakteri tersebut akan digantikan zat-zat yang menyehatkan.
Bagaimana sebenarnya puasa mampu mengobati berbagai macam penyakit? Dr. Husen A. Bajry menjelaskan, puasa sebenarnya bukan mengobati penyakit, melainkan memberi kesempatan kepada tubuh untuk beristirahat dari rutinitas pekerjaan mengolah makanan dan minuman seperti biasanya, sehingga energi yang biasa digunakan oleh tubuh dalam bekerja mengolah makanan, akan digunakan untuk melakukan perbaikan-perbaikan kerusakan tubuh ketika puasa. Itulah sebabnya puasa mampu mengobati berbagai penyakit kronis.
Saat berpuasa, tubuh juga mengalami detoksifikasi secara alami. Tidak adanya makanan yang biasa masuk ke dalam lambung, membuat organ-organ tubuh, seperti hati dan limpa, “membersihkan diri”. Racun-racun yang dibuang pun 10 kali lebih banyak. Karena racun yang dikeluarkan lebih banyak dari biasanya, proses penuaan pun bisa dihambat untuk sementara. Itulah sebabnya bila kita melakukan puasa dengan benar, wajah kita akan tampak lebih berseri.
Mengingat dahsyatnya efek puasa bagi kesehatan, hendaknya kita bersungguh-sungguh berpuasa. Karena tidak hanya efek kesehatan saja yang akan kita dapatkan, tapi juga manfaat-manfaat lain, terutama untuk kepentingan akhirat. Seorang sahabat berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke dalam surga.” Rasulullah bersabda, “Hendaklah engkau melaksanakan puasa, karena tidak ada yang semisal dengannya.” (HR. Nasaai, Ibnu Hibban, dan Al Hakim).*

*Artikel ini dimuat di Koran Muria, edisi Selasa, 22 Juli 2014

Koran Muria, edisi Selasa, 22 Juli 2014

Koran Muria, edisi Selasa, 22 Juli 2014

Categories: Motivasi Ibadah & Amal Shalih | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: