Pro-Kontra Zakat Fitrah dengan Uang

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Suara Merdeka, edisi Sabtu, 19 Juli 2014

Suara Merdeka, edisi Sabtu, 19 Juli 2014

Setiap menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan, masjid-masjid dan mushalla-mushalla selalu disibukkan dengan agenda penerimaan dan pendistribusian zakat fitrah. Namun, meski sudah dilaksanakan selama bertahun-tahun, masih juga menyisakan sejumlah pertanyaan pada tataran pelaksanaannya.
Setidaknya, sampai saat ini masih ada yang mempersoalkan teknis pembayaran dan pendistribusian zakat fitrah, yakni bolehkah membayar zakat fitrah dalam bentuk uang; dan didistribusikan kepada fakir miskin juga dalam bentuk uang? Karena sejauh yang diketahui, zakat fitrah harus merupakan bahan makanan pokok setempat (ghalib quut al-balad).
Dalilnya adalah sebuah hadits riwayat Ibnu Umar RA yang menyatakan, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah, berupa satu sha’ kurma kering atau gandum kering ….” (HR. Bukhari dan Muslim).
Namun, kondisi zaman yang berubah, menjadikan mengeluarkan dan mendistribusikan zakat fitrah dalam bentuk uang dinilai lebih maslahah daripada membayar dan memberikannya dalam bentuk bahan makanan pokok.
Bagaimana mendudukkan persoalan ini? Bolehkah membayar dan mendistribusikan zakat fitrah dalam bentuk uang? Tulisan ini akan sedikit mengulasnya.
Bila ditelisik, pro-kontra tentang membayar zakat fitrah dengan uang sudah ada sejak zaman dahulu. Terjadi silang pendapat antar ulama, namun mayoritas ulama memilih melarang pembayaran zakat fitrah dengan uang. Di antara ulama yang berpegang pada pendapat ini adalah Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bahkan, Imam Malik dan Imam Ahmad secara tegas menganggap tidak sah jika membayar zakat fitrah dalam bentuk uang.
Sebaliknya, hanya sedikit ulama yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang. Mereka yang membolehkan di antaranya adalah Umar bin Abdul Aziz, Al-Hasan Al-Bashri, Atha’, Ats-Tsauri, dan Abu Hanifah. Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri, bahwa beliau mengatakan, “Tidak mengapa memberikan zakat fitrah dengan dirham.”
Diriwayatkan dari Abu Ishaq; beliau mengatakan, “Aku menjumpai mereka (Al-Hasan dan Umar bin Abdul Aziz) sementara mereka sedang menunaikan zakat Ramadan (zakat fitrah) dengan beberapa dirham yang senilai dengan bahan makanan.”
Diriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah, bahwa beliau menunaikan zakat fitrah dengan waraq (dirham dari perak).
Harus diakui, pendapat yang sejalan dengan sunnah adalah mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk makanan pokok (beras) sebagaimana pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Bila ada kendala teknis, pembayaran boleh dalam bentuk uang tunai kepada panitia/amil zakat untuk dibelikan beras sebelum dibagikan kepada fakir miskin. Inilah “jalan tengah” yang sudah lazim dilakukan oleh panitia/amil zakat di berbagai masjid dan mushalla selama ini.

Asas Manfaat
Kendati demikian, saat ini kita tidak bisa menafikan alasan logis dan argumentatif di balik pendapat yang membolehkan membayar dan mendistribusikan zakat fitrah dalam bentuk uang. Alasan istihsan (menganggap lebih baik) selayaknya dipertimbangkan. Dalam kondisi saat ini, uang lebih baik dan lebih bermanfaat untuk orang miskin daripada bahan makanan.
Pakar syariah Dr. Ahmad Zain An-Najah menyatakan, sebagian ulama yang membolehkan mengeluarkan zakat fitrah dengan uang karena kebutuhan fakir miskin berbeda-beda, khususnya zaman sekarang—kebanyakan orang lebih membutuhkan uang daripada makanan. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Umar RA: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah dan bersabda, ‘Cukupkan mereka (fakir miskin) pada hari itu’.” (HR. Daruqutni dan Baihaqi).
Mencukupkan fakir miskin bisa dengan memberikan uang atau sejenisnya yang dibutuhkan oleh fakir miskin dan tidak harus dengan bentuk bahan makanan.
Jadi, haruskah dengan bahan makanan atau bolehkah dengan uang? Jalan tengahnya barangkali layak dipertimbangkan pendapat atau fatwa Allahu yarham Syeikh Mahmud Syaltut. Dalam kitab Fatawa-nya, Syeikh Mahmud Syaltut menyatakan, “Yang saya anggap baik dan saya laksanakan adalah, bila saya berada di desa, saya keluarkan bahan makanan seperti kurma, kismis, gandum, dan sebagainya. Tapi jika saya di kota, maka saya keluarkan uang (harganya)”.
Mengacu pada apa yang disampaikan oleh Syeikh Mahmud Syaltut, pembayaran dan pendistribusian zakat fitrah bisa bersifat fleksibel, dalam arti dalam membayar zakat fitrah sebaiknya dilihat kondisi fakir miskin setempat. Jika mereka memang lebih membutuhkan bahan makanan, seperti beras, sebaiknya orang yang berzakat fitrah mengeluarkan zakatnya berupa bahan makanan. Akan tetapi jika mereka lebih membutuhkan uang, sebaiknya membayar zakat dengan uang karena hal tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat dan sesuai dengan tujuan diturunkannya syariah. Wallahu a’lam.*

*Artikel ini dimuat di Suara Merdeka, edisi Sabtu, 19 Juli 2014 dengan judul “Zakat Fitrah dengan Uang”.

Categories: Perspektif | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: