Spirit Iqra’Membangun Peradaban

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

(Sumber ilustrasi: mobavatar.com)

(Sumber ilustrasi: mobavatar.com)

Malam itu, malam 17 Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 Masehi. Muhammad SAW, yang kala itu berusia 40 tahun, asyik ber-tahannuts di keremangan gua Hira’ yang hening. Di tengah kekhusyukannya ber-tahanuts, tiba-tiba datang malaikat Jibril membawa tulisan dan menyuruh Muhammad SAW untuk membacanya. “Bacalah !” kata Jibril.
Muhammad SAW terperanjat. Hingga spontan saja ia menjawab “Aku tidak bisa membaca”.
Jibril kemudian merengkuh tubuh Muhammad SAW. Nafas Muhammad SAW pun sesak dibuatnya. Lalu, sembari melepas rengkuhannya, Jibril kembali menyuruh Muhammad SAW membaca. “Bacalah !” kata Jibril.
Muhammad SAW masih saja menjawab “Aku tidak bisa membaca”. Begitu seterusnya hingga berulang sampai tiga kali. Akhirnya, dengan pasrah, Muhammad SAW bertanya “Apa yang kubaca ?”. Lalu Jibril pun membacakan ayat-ayat, yang kelak kita mengetahuinya sebagai Surat Al-‘Alaq ayat 1-5.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
Sepotong peristiwa monumental di atas menjadi tonggak dimulainya misi profetik yang dibawa Muhammad SAW. Malam itu, beliau “diwisuda” oleh Allah melalui malaikat Jibril sebagai “utusan Allah” (Rasul Allah). Dan untaian ayat-ayat yang terangkum dalam Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 merupakan wahyu pertama yang menjadi modal atau kunci titik tolak pembangunan peradaban umat manusia yang sejati. Dan kata kunci (key word) itu ada pada perintah iqra’ atau membaca.
Dr. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an menjelaskan, “Mengapa Iqra’ merupakan perintah pertama yang ditujukan kepada Nabi, padahal beliau adalah seorang yang ummi (yang tak pandai membaca dan menulis)? Mengapa demikian? Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti ‘menghimpun’ sehingga tidak selalu harus diartikan ‘membaca’ teks tertulis dengan aksara tertentu. Dari ‘menghimpun’ lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak tertulis”.
Dengan demikian, Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah dan diri sendiri, yang tertulis dan yang tak tertulis. Alhasil, obyek perintah Iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.
Perintah “membaca” yang teruntai dalam kata Iqra’ merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. “Membaca” dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dan utama pengembangan ilmu pengetahuan teknologi, serta syarat utama membangun peradaban. Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, dimulai dari suatu kitab (bacaan).
Hal itu bisa dilacak pada masa-masa keemasan peradaban Islam. Pada masa Abbasiyah, misalnya. Masa yang dikenal sebagai “periode keemasan evolusi ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam” itu tercatat sangat concern dengan koleksi bacaan. Di masa pemerintahan Al-Ma’mun (198-218 H/813-823 M) dibangun perpustakaan besar yang terkenal dengan nama Bait al-Hikmah di Baghdad. Perpustakaan itu menyimpan berbagai macam subjek seperti sastra, bahasa, kedokteran, matematika, syari’ah, ushuluddin, logika, dan lain-lain.

Membaca buku, kunci kejayaan peradaban (sumber ilustrasi: http://gelarriksa.files.wordpress.com)

Membaca buku, kunci kejayaan peradaban (sumber ilustrasi: http://gelarriksa.files.wordpress.com)

Pada masa pemerintahan Fatimiyah (297-573 H/909-1171 M) didirikan perpustakaan yang memiliki sekitar 200 ribu judul buku dan lebih dari 2 ribu Al-Qur’an yang kaya dengan iluminasi. Perpustakaan ini masih dipelihara oleh Menteri Abu Al-Qasim Ali Ibn Ahmad Al-Jarjara’i setelah Al-Hakim (yang memerintah saat itu) wafat. Pada tahun 425 H/1043 M, Abu Al-Qasim memerintahkan untuk membuat katalog jilidan buku yang ada di perpustakaan. Namun perpustakaan ini perlahan-lahan hancur terutama di bawah pemerintahan Al-Mustansir (427 – 487 H/1035-1094 M).
Pada abad pertengahan Islam, perpustakaan yang cukup penting adalah Perpustakaan Pengadilan Pemerintahan Umayah II di Cordova, Spanyol (132-423 H/70-1031 M). Ketika Salahudin Al-Ayubi menjadi penguasa baru di Mesir menggantikan pemerintahan Fatimiyah (567 H/1171 M), beliau juga sangat mendorong perkembangan perpustakaan dan lembaga pendidikan.
Alhasil, penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, yang salah satunya dimanifestasikan dengan kuatnya tradisi intelektual berupa penulisan buku-buku, telah mengantarkan umat Islam pada kejayaan peradaban. Selama sekitar 700 tahun umat Islam telah memimpin peradaban dunia dari tahun 700 M sampai tahun 1400 M.
Namun sayangnya, justru kenyataannya kini umat Islam tak menyadari sepenuhnya sejarahnya sendiri. Di abad ini, umat Islam terpuruk dan jauh tertinggal dari bangsa-bangsa Barat yang sekuler dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan pesat informasi dan teknologi-informasi kini dikuasai peradaban Barat dan Jepang. Jaringan lembaga keuangan dan media massa internasional yang kuat, Barat pula yang menguasai.
Di Indonesia sendiri, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, juga mengalami nasib yang sama, yakni terpuruk dalam berbagai bidang. Sehingga daya saing Indonesia menjadi rendah dibanding negara-negara lain. Apa penyebabnya? Salah satu penyebab yang paling utama adalah kurangnya etos semangat keilmuan. Salah satu indikasinya adalah rendahnya tradisi membaca (dan juga menulis). Di Indonesia, tradisi membaca kurang berlaku. Yang berkembang adalah budaya mendengar dan menonton. Maka tak heran bila di Indonesia lebih banyak orang yang suka menonton televisi ketimbang membaca buku.
Maka, untuk mengatasinya, memang umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini perlu untuk merenungkan sungguh-sungguh pesan Al-Qur’an yang mengajarkan pentingnya membudayakan “membaca” (iqra’) sebagai kunci meraih kejayaan peradaban.*

Categories: Perspektif | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: