Ramadhan, Momentum Melejitkan Spirit Berbagi

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Sumber ilustrasi: ramadhanramadhan.blogspot.com

Sumber ilustrasi: ramadhanramadhan.blogspot.com

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia. Ada banyak nama yang disematkan untuk bulan ini, antara lain syahr al-qur’an, bulan diturunkannya Al-Qur’an; syahr at-tilawah, bulan mengkaji Al-Qur’an; syahr ar-rahmah, bulan tempat Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya; syahr ash-shiyam, bulan di mana setiap muslim diwajibkan untuk menjalankan puasa; syahr an-najah, bulan pelepasan dari siksaan api neraka; dan syahr al-jud, bulan kedermawanan. Nama yang terakhir saya sebut inilah yang akan kita bahas di tulisan ini, yakni syahr al-jud, bulan kedermawanan.
Derma atau sedekah merupakan amal mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Lewat doktrin-doktrinnya, yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, Islam memotivasi pemeluknya untuk gemar bersedekah, bahkan pentingnya menjadikan sedekah sebagai karakter yang melekat dalam kapasitas kepribadian seorang muslim.
Di dalam Al-Qur’an, banyak ditemukan ayat-ayat yang berisi motivasi sedekah. Di antaranya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245).
Di ayat lainnya, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).
Di ayat lainnya lagi, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134).
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya di dalam Al-Qur’an.
Adapun dalam As-Sunnah, banyak ditemukan hadits-hadist yang berisi motivasi bersedekah. Antara lain: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau mendermakan kelebihan hartamu, maka itu lebih baik bagimu. Namun jika engkau menahannya, maka itu sangat buruk bagimu. Dan janganlah engkau mencela orang yang meminta-minta. Mulailah pemberian dari yang berada di bawah tanggunganmu. Karena tangan yang di atas itu lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Muslim).
Di hadits lainnya, “Harta itu tidak akan berkurang karena disedekahkan, Allah tidak akan menambah seorang hamba yang suka memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang itu berlaku tawadhuk kepada Allah kecuali Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim).
Di hadits lainnya lagi, “Bersedekahlah dan janganlah engkau terlalu menghitung-hitungnya (bakhil), sehingga Allah pun akan menyempitkan rezekimu.” (HR. Bukhari).
Ayat-ayat dan hadits-hadits di atas setidaknya mewakili doktrin Islam tentang keutamaan bersedekah atau keutamaan berbagi dan peduli terhadap nasib sesama. Berbagai ayat dan hadits di atas bila kita kristalisasi dalam satu kata, maka kata yang pas untuk menggambarkan dahsyatnya keutamaan derma atau bersedekah adalah ada pada kata “berkah”.
Ya, sedekah adalah pintu keberkahan. Sikap gemar memberi, bersedekah, berderma, berbagi, peduli, dan menolong sesama, akan selalu memandu langkah siapa pun untuk menggapai keberkahan hidup. Keberkahan hidup seperti apa yang akan digapai oleh para pelaku sedekah? Kiranya pernyataan Syeikh Aidh al-Qarni dalam bukunya As’ad al-Mar’ah fi al’Alam bisa sedikit menggambarkan keberkahan yang akan diperoleh oleh para pelaku sedekah.
Syeikh Aidh al-Qarni menyatakan, “Derma adalah salah satu pintu agung bagi kelapangan dada dan terbukanya hati nurani. Sesungguhnya, berbuat kebajikan akan membuat pelakunya dikaruniai kecukupan oleh Allah dengan membuat hatinya menjadi lapang, ceria, nuraninya bercahaya, dan selalu dalam kondisi sejahtera.”
Karena itu, Syeikh Aidh al-Qarni menasehatkan, jangan pernah menganggap remeh sesuatu yang engkau dermakan, walaupun hanya sebutir kurma, sesuap nasi, seteguk air, atau satu perasan susu. Hadiahkanlah kepada orang yang membutuhkan, berilah orang yang kelaparan, kunjungilah orang yang sakit. Sadar atau tidak, itulah sebenarnya yang akan meringankan kegundahan, kegelisahan, dan kesedihan. Derma adalah obat yang tidak ada kecuali di “apotik” Islam.

Asah Kepekaan Sosial
Ramadhan adalah bulan mulia yang orang-orang beriman diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh di dalamnya. Dengan melaparkan diri sebagaimana lapar yang dirasakan oleh kaum fakir dan miskin, sejatinya puasa merupakan sarana mengasah kepekaan sosial, sehingga akan tumbuh spirit berbagi dan peduli terhadap nasib mereka.
Di bulan Ramadhan seluruh amal kebajikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah, termasuk tentu saja amal sedekah. Bahkan sedekah sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda, “Seutama-utamanya sedekah adalah di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi).
Rasulullah SAW sendiri adalah teladan gemilang dalam hal kedermawanan. Dan kedermawanan Rasulullah meningkat hebat di bulan Ramadhan. Ibnu Abbas RA bercerita, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah SAW melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari).
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari menjelaskan, bahwasannya kedermawanan Rasulullah SAW diibaratkan melebihi angin yang berhembus, karena Rasulullah SAW sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat. Dalam hadits tersebut, angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), yang mengisyaratkan kedermawanan Rasulullah SAW memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus.
Di sinilah kita bisa memetik sebuah hikmah penting tentang eksistensi bulan Ramadhan sebagai syahr al-jud alias bulan kedermawanan. Di bulan inilah momentun terbaik bagi kita untuk membiasakan berderma atau bersedekah, sehingga kemudian spirit “berbagi dan peduli” menjadi karakter yang melekat dalam kapasitas kepribadian kita di sepanjang usia hidup kita. Semoga bermanfaat.*

Categories: Motivasi Ibadah & Amal Shalih | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: