Fenomena Standing Party, Adab Islami yang Ditinggalkan

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Makan sambil berdiri bertentangan dengan adab Islami. (Sumber ilustrasi: tarbiahmoeslim.wordpress.com)

Makan sambil berdiri bertentangan dengan adab Islami. (Sumber ilustrasi: tarbiahmoeslim.wordpress.com)

Secara sederhana, standing party adalah suatu pesta atau acara yang terdapat berbagai hidangan yang disajikan, baik makanan maupun minuman, namun para tamu menikmatinya dengan cara stand atau berdiri. Kursi yang disediakan penyelenggara pesta sangat terbatas, mungkin hanya untuk keluarga atau kalangan khusus, dan tidak sebanding dengan tamu yang banyak, sehingga sebagian besar tamu menikmati hidangan sambil berdiri. Dengan demikian, para tamu makan dan minum sambil berdiri memang sudah disengaja, tidak lagi kebetulan karena tidak kebagian kursi.
Pesta model standing party ini rupanya tengah menjadi tren. Di berbagai pesta pernikahan yang saya hadiri, tak sedikit yang menggunakan konsep standing party. Padahal penyelenggara pesta itu tak sedikit yang merupakan tokoh agama. Pertanyaan yang mengemuka, bagaimana sesungguhnya pesta ala standing party bila dilihat dari sudut pandang syariat Islam? Untuk menjawabnya, tentu kita harus menelisik terlebih dahulu, status hukum makan dan minum sambil berdiri. Bolehkah makan dan minum sambil berdiri dalam syariat Islam?
Ternyata, hukum makan dan minum sambil berdiri, terjadi silang pendapat di kalangan ulama. Ada yang melarang, ada yang membolehkan. Beberapa hadits Nabi SAW menunjukkan larangan makan dan minum sambil berdiri.
Dari Anas RA, beliau mengatakan, “Bahwasannya Nabi SAW melarang minum sambil berdiri.” Qatadah menjelaskan, “Lalu kami bertanya, ‘Kalau makan?’ Beliau bersabda, ‘Kalau makan (sambil berdiri) maka itu lebih buruk dan keji’.” (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian minum sambil berdiri. Barang siapa lupa sehingga minum sambil berdiri, maka hendaklah ia berusaha untuk memuntahkannya.” (HR. Ahmad).
Namun, di samping hadits-hadits yang melarang makan dan minum sambil berdiri, terdapat juga hadits-hadits yang membolehkan makan dan minum sambil berdiri.
Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah SAW. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Dari An-Nazal, beliau menceritakan bahwa Ali RA mendatangi pintu ar-Raghbah lalu minum sambil berdiri. Setelah itu beliau mengatakan, “Sesungguhnya banyak orang tidak suka minum sambil berdiri, padahal aku melihat Rasulullah SAW pernah melakukan sebagaimana yang baru saja aku lihat.”(HR. Bukhari).
Dari Ibnu Umar RA berkata, “Dahulu kami makan di zaman Rasulullah SAW sambil berjalan, juga kami minum sambil berdiri”. (HR. At-Tirmizi).
Dari Ibnu Abbas RA berkata, “Nabi SAW minum air zamzam dalam keadaan berdiri”. (HR At-Tirmizi).
Barangkali berbagai hadits yang pro maupun yang kontra di atas, menjadikan terjadinya silang pendapat di kalangan ulama. Ust. Ahmad Sarwat, Lc, MA dalam bukunya Halal atau Haram merinci pendapat ulama empat madzhab berkaitan dengan makan dan minum sambil berdiri sebagai berikut:

1. Mazhab Al-Hanafiyah
Menurut pandangan mazhab ini, makan dan minum sambil berdiri hukumnya adalah karahah tanzih. Maksudnya dibenci atau tidak disukai.
Namun mazhab ini mengecualikannya dengan mengatakan bahwa dibolehkan minum air zamzam atau air bekas wudhu sambil berdiri.
Pendapat mazhab ini bisa kita lihat dalam Ibnu Abidin jilid 1 halaman 387.

2. Mazhab Al-Malikiyah
Dalam pandangan mazhab ini, hukum makan dan minum sambil berdiri dibolehkan, tidak ada larangan. Jadi siapa pun boleh untuk makan atau minum sambil berdiri.
Kalau kita teliti kitab-kitab seperti Al-Fawakih Ad-Dawani jilid 2 halaman 417 dan Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 288, maka kita akan dapat keterangan seperti itu.

3. Mazhab As-Syafi’iyah
Mazhab ini mengatakan bahwa minum sambil berdiri adalah khilaful aula (menyalahi keutamaan). Jadi bukan berarti haram hukumnya secara total.
Silahkan periksa kitab Asy-Syafi’iyah, semisal kitab Raudhatuttalibin jilid 7 halaman 340 dan kitab lainnya seperti Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 250.

4. Mazhab Al-Hanabilah
Dalam pandangan salah satu riwayat mazhab ini, dikatakan bahwa mazhab ini cenderung tidak mengatakan ada karahah (kebencian) untuk minum dan makan sambil berdiri. Namun dalam riwayat yang lain malah disebutkan sebaliknya, yaitu mereka mengatakan justru ada karahah (kebencian).
Silahkan periksa Kitab Kasysyaf Al-Qinna‘ jilid 5 halaman 177 dan juga kitab Al-Adab Asy-Syar’iyah jilid 3 halaman 175-176.

Suasana sebuah pesta model standing party (Sumber ilustrasi: langitketujuh.com)

Suasana sebuah pesta model standing party (Sumber ilustrasi: langitketujuh.com)

Bila membaca pendapat keempat madzhab di atas, maka hanya madzhab Al-Malikiyah saja yang membolehkan makan dan minum sambil berdiri. Sementara ketiga madzhab lainnya cenderung menyatakan sebagai sesuatu yang patut dihindari karena dibenci (karahah) dan menyalahi keutamaan (khilaful aula). Dengan demikian, pendapat terkuat sesungguhnya adalah bahwa makan dan minum sambil berdiri merupakan sesuatu yang menyelisihi adab Islami. Walaupun tidak sampai pada status haram, namun dibenci dan tidak disukai.
Shaleh Ahmad Asy-Syaami dalam buku Berakhlak dan Beradab Mulia, Contoh-contoh dari Rasulullah (2005) menyatakan, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa posisi hadits yang menjelaskan beliau pernah minum sambil berdiri adalah sebagai penjelasan bahwa larangan minum sambil berdiri bukan bermaksud mengharamkan tetapi hanya sebagai petunjuk bahwa hal itu hendaknya ditinggalkan karena yang baik adalah minum sambil duduk.
Masih menurut Shaleh Ahmad Asy-Syaami, sebagian ulama lagi berpendapat bahwa pada dasarnya tidak ada pertentangan sama sekali antara kedua hadits tersebut. Rasulullah SAW minum sambil berdiri karena memang waktu itu kondisi menuntut beliau melakukan hal tersebut. Waktu itu, ketika beliau datang ke sumur zamzam, banyak orang yang sedang minum, lalu beliau meminta agar diambilkan air zamzam. Lalu mereka menyodorkan satu timba air zamzam kepada beliau, lalu beliau pun langsung meminumnya sambil berdiri. Jadi, beliau melakukan hal tersebut tidak lain hanya karena memang kondisi waktu itu menuntut seperti itu.
Senada dengan Shaleh Ahmad Asy-Syaami, Shubhi Sulaiman dalam bukunya Nabi Sang Tabib (2013) menjelaskan, Nabi pernah minum sambil berdiri karena kondisi darurat yang menghalanginya untuk minum sambil duduk, seperti keadaan sesak di tempat-tempat yang suci. Beliau tidak menjadikan hal itu sebagai kebiasaan dan terus menerus.
Dr. Abdurrazaq Al-Kailani sebagaimana dikutip Shubhi Sulaiman menyatakan, makan dan minum sambil duduk lebih menyehatkan, aman, enak, dan menjaga kehormatan. Sebab, apa yang dimakan dan diminum sambil duduk akan melewati dinding perut dengan pelan dan lembut. Sedangkan minum sambil berdiri menyebabkan jatuhnya air ke dasar perut dengan keras dan menghantamnya. Jika hal ini terjadi secara berulang-ulang dan dalam waktu yang lama boleh menyebabkan perut menjadi longgar dan lemah. Selanjutnya, perut akan sulit mencerna.
Dengan demikian, sesungguhnya makan dan minum sambil duduklah yang merupakan adab dan keutamaan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Karena itu, fenomena standing party sesungguhnya merupakan budaya yang bertentangan dengan spirit etika Islami. Penyelenggara pesta sudah sepantasnya, bahkan sudah seharusnya menyediakan tempat duduk bagi semua tamunya. Sehingga para tamu dapat menikmati hidangan yang disediakan sambil duduk santai di tempatnya masing-masing. Pesta seperti itu insyaallah jauh lebih sehat, nyaman, dan terhormat. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.*

 

 

Categories: Adab Islami | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: