Ramadhan dan Jihad Melawan Godaan Duniawi

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

DSCF2277Ada sebuah kisah pertempuran yang diabadikan dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah, yakni kisah pertempuran pasukan Thalut melawan pasukan Jalut. Thalut adalah seorang penduduk biasa yang diangkat menjadi raja di Bani Israil. Ia mengemban tugas berat membebaskan Bani Israil dari penindasan Jalut.
Saat pemberangkatan, Thalut berkata kepada pasukannya yang menurut sebuah literatur berjumlah 70 ribu orang (ada juga menyebut angka 80 ribu). “Wahai pasukanku, nanti kalian akan diuji dengan sebuah sungai. Jika kalian meminum darinya, maka ia bukan pengikutku. Namun bila kalian tidak meminumnya, maka kalian bersamaku, kecuali mereka yang hanya meminum sekedarnya saja (untuk menghilangkan haus) secedukan tangannya.
Pasukan Thalut mengiyakan saja instrukti pimpinannya itu. Mereka yakin akan dapat melewati ujian itu. Namun, ketika ujian itu benar-benar tiba, tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Saat mereka melihat sungai yang airnya jernih dan segar, sontak banyak dari mereka yang segera terjun ke sungai dan berpesta air. Meminum sepuas-puasnya.
Mereka memang baru saja menempuh perjalanan panjang, melewati padang pasir yang panas. Perbekalan habis dan haus mencekik leher. Kondisi itulah yang pada akhirnya membuat banyak pasukan Thalut yang tidak tahan godaan.
Mereka pun meminum air sungai sepuas-puasnya, sampai akhirnya mereka justru lemah dan mengantuk, serta tak sanggup melanjutkan perjalanan untuk berperang menghadapi Jalut dan pasukannya, yang dikenal besar tubuhnya, tegap, dan kuat.
Sebuah literatur menyebutkan, pasukan Thalut yang tersisa hanya 313 orang. Merekalah orang-orang terpilih yang terbukti kokoh imannya, terbukti tidak tergoda oleh godaan sesaat yang bersifat keduniawian itu.
Ketika mereka sudah bertemu dengan pasukan Jalut yang jumlahnya sekitar 100 ribuan, dengan persenjataan lengkap dan kondisi fisik yang masih prima, berdoalah pasukan Thalut dengan doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an. “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah: 250). Dengan izin Allah, akhirnya Thalut dan tentaranya dapat mengalahkan Jalut dan pasukannya. Sebuah kisah yang menggetarkan dan sarat hikmah.

***
Ada satu poin penting yang bisa kita catat dari kisah di atas, yakni pentingnya senantiasa memperkokoh kapasitas kesabaran dan keimanan dalam diri kita untuk dapat melewati aneka godaan duniawi. Banyak dari kita yang merasa tidak akan tergoda melakukan tindakan-tindakan yang tercela, semisal korupsi, karena tahu korupsi itu dosa besar dan merugikan rakyat.
Kalimat “tidak akan tergoda” akan mudah diucapkan bagi mereka yang tidak ada di dalam pusaran yang memungkinkannya untuk melakukan korupsi. Bila sudah berada dalam pusaran yang memungkinkannya untuk korupsi, boleh jadi akan lain ceritanya. Bukan tidak mungkin ia akan tergelincir dalam pusaran korupsi yang sebelumnya diyakininya sebagai perbuatan tercela.
Ketika dihadapkan pada uang yang banyak yang bisa dikorupsi, barangkali terbayanglah utangnya yang menumpuk, rumahnya yang seadanya, keinginan-keinginan hidupnya yang belum bisa terpenuhi karena tiadanya uang, dan sebagainya. Bayangan-bayangan itulah yang menjadi godaan terberat, yang berpotensi meruntuhkan keimanan, dan menjadikannya tergelincir dalam kubangan korupsi.
Banyak perbuatan-perbuatan tercela yang tidak kita lakukan, bukan karena kita sudah terbukti memiliki iman yang kokoh, tapi karena memang kita belum pernah menghadapi situasi gawat di mana iman kita diuji, apakah kemudian kita memilih jalan iman atau sebaliknya.
Banyak dari kita yang tidak melakukan zina misalnya, bukan karena sudah terbukti kokoh imannya. Tapi boleh jadi karena memang belum pernah menghadapi situasi di mana keimanannya diuji untuk berzina atau tidak berzina.
Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari-Muslim yang menceritakan tujuh kelompok orang yang akan mendapatkan perlindungan langsung dari Allah besok di hari kiamat, salah satunya adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum di sebuah tempat yang sepi oleh seorang perempuan jelita lagi berkedudukan, namun laki-laki itu menolaknya dengan menjawab, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.
Kekokohan iman kita suatu saat akan diuji oleh godaan-godaan duniawi semacam itu yang bertebaran di panggung kehidupan ini. Bukan tidak mungkin kita akan tergelincir, meski awalnya kita telah PeDe dengan keimanan kita.
Hemat saya, inilah salah satu rahasia yang bisa kita gali dari eksistensi bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan adalah anugerah terindah dari Allah. Bulan di mana kita difasilitasi untuk melatih diri mengendalikan hawa nafsu, menggodok kesabaran dan keimanan, memperkuat benteng ketakwaan, agar kemudian kita menjelama menjadi pribadi tangguh, yang siap berjihad melawan godaan-godaan duniawi yang akan banyak kita jumpai di realitas panggung kehidupan.
Maka memanfaatkan hadirnya bulan Ramadhan, dengan bersungguh-sungguh mengisinya dengan rangkaian amal ibadah dan pengendalian diri terhadap hawa nafsu duniawi, akan menjadi modal awal keberhasilan kita menghadapi godaan-godaan yang bersifat duniawi, betapa pun hebatnya godaan itu. Sebaliknya, bila kita gagal memanfaatkan hadirnya bulan Ramadhan, maka boleh jadi itu merupakan awal kegagalan kita menghadapi godaan-godaan duniawi yang kian hari kian menghebat.
Berkaca kepada kisah pasukan Thalut di atas, hanya sedikit yang pada akhirnya tahan menghadapi godaan nafsu duniawi. Persis seperti yang digambarkan oleh Nabi Saw dalam sabdanya, “Alangkah sedikitnya yang berpuasa, dan alangkah banyaknya yang hanya melaparkan diri saja.”. Namun di antara yang sedikit itu, mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya. Amin.*

*Artikel ini dimuat di Koran Muria, edisi 27 Juni 2014 dengan judul “Jihad Melawan Godaan”.

 

Categories: Perspektif | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: