Puasa, Membumikan Nilai Takwa

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

DSCF2279Ibadah puasa bertujuan untuk membentuk pribadi takwa sebagaimana ayat yang menjadi landasan kewajiban berpuasa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183).
Namun, puasa yang berefek pada pembentukan pribadi yang bertakwa tidak akan pernah terjadi jika puasa yang dilakukan hanya sebatas “puasa formalistik”, yakni puasa yang dilakukan sekadar untuk memenuhi keabsahan secara fiqh. Yakni hanya menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa, tapi tidak menahan diri dari perkara-perkara yang merusak pahala puasa.
Berpuasa, tapi masih mengumbar amarah. Berpuasa, tapi masih menyia-nyiakan waktu. Masih enteng melanggar larangan Allah, seperti berbicara kotor, dusta, iri, dengki, ghibah, fitnah, dan sebagainya. Lebih jauh lagi, berpuasa tapi masih tega melakukan korupsi dan perilaku keji lainnya. Bila demikian yang terjadi, ia terkena pernyataan Nabi Muhammad SAW, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabrani).
Puasa formalistik seperti itu jauh panggang dari api akan dapat membentuk pribadi takwa. Puasa seperti itu hanya akan menjadi rutinitas tahunan yang hampa nir makna, dan tak memberi efek nyata bagi pembentukan kepribadian yang menjadi puncak tujuan dari puasa itu sendiri, yaitu pribadi takwa. Karena itu, sesungguhnya, puasa sejati adalah puasa yang tidak sekedar memenuhi keabsahan secara fiqh—dalam arti menahan lapar dan dahaga saja, serta dari “berhubungan suami-istri”. Namun lebih jauh, puasa yang di dalamnya seseorang mampu menginternalisasi dan membumikan nilai-nilai takwa ke dalam kapasitas kepribadiannya.
Salah satu hal penting yang perlu dilakukan adalah menginventarisasi nilai-nilai takwa, untuk kemudian diinternalisasi dan dibumikan secara intensif sepanjang bulan Ramadhan. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menggambarkan nilai-nilai atau karakteristik orang-orang bertakwa. Di antaranya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit; dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 133-135).
Setidaknya ada tiga (3) nilai atau karakter orang bertakwa yang disebutkan dalam ayat di atas. Pertama; orang bertakwa itu memiliki kecerdasan finansial. Ia cerdas mengelola dan mendistribusikan hartanya. Yakni tidak digunakan semata untuk kebutuhan personal, memuaskan hasrat duniawinya, namun juga untuk kepentingan sosial yang diridhai-Nya.
Orang bertakwa dengan demikian juga memiliki kecerdasan sosial. Ia sensitif terhadap penderitaan orang lain. Oleh karenanya, bersedekah menjadi karakter yang melekat dalam kapasitas kepribadiannya. Baik di waktu ekonominya sedang lapang maupun sempit, ia tetap bersedekah. “Tangan di atas” tidak hanya telah menjadi mindset yang tertanam kuat di pikirannya, tetapi sudah menjelma menjadi laku yang melekat dalam kapasitas kepribadiannya.
Kedua; orang bertakwa memiliki kecerdasan emosional. Dalam berinteraksi sosial, ia menunjukkan pribadi yang sangat simpatik. Emosinya relatif stabil. Ia tidak biasa mengumbar amarah, tidak mudah terpancing emosi, sebaliknya justru senang memaafkan kesalahan orang lain. Pribadinya ramah, santun, dan menyenangkan.
Ketiga; orang bertakwa memiliki kecerdasan spiritual. Ia dekat dan senantiasa berupaya mendekatkan diri dengan Rabb-nya melalui rangkaian amaliyah ibadah. Dalam beribadah, ia tidak hanya serius menjaring sebanyak-banyaknya pahala dengan senantiasa meningkatkan kuantitas frekuensi ibadahnya, tetapi juga sangat memperhatikan kualitas ibadahnya.
Efeknya, orang yang bertakwa sangat peka terhadap dosa, sekecil apapun dosa itu. Karenanya, bila ia tergelincir dalam perbuatan maksiat, ia bersegera bertaubat dengan melakukan tiga langkah: segera mengingat-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan tidak mengulangi perbuatan maksiatnya lagi.
Sebulan penuh selama bulan Ramadhan, setidaknya ketiga nilai takwa tersebut difasilitasi untuk diinternalisasi dan dibumikan secara intensif. Selama bulan Ramadhan kita dimotivasi untuk rajin bersedekah, tidak pelit untuk mengeluarkan harta di jalan kebaikan, untuk membantu sesama, maupun untuk kepentingan sosial lainnya.
Di bulan Ramadhan kita dilatih untuk senantiasa memanfaatkan waktu hanya untuk kebajikan; memastikan panca indra digunakan untuk kebaikan; mengelola dan mengendalikan amarah; dan lain sebagainya. Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang sedang puasa, janganlah ia berbuat atau berkata yang tidak senonoh. Jika ada seseorang yang memakinya, hendaklah ia mengatakan, ‘Maaf aku sedang puasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Di bulan suci Ramadhan pula kita dimotivasi untuk mengasah kecerdasan spiritual dengan cara memperbanyak amaliyah ibadah seperti tilawah Al-Qur’an, shalat tarawih atau qiyamul lail, iktikaf, dan lain sebagainya.
Dengan kesungguhan membumikan nilai-nilai takwa di sepanjang bulan Ramadhan itulah, seorang mukmin akan terbentuk kepribadiannya dan berhak mendapat predikat sebagai “muttaqiin” yakni orang yang bertakwa. Dengan nilai-nilai takwa itulah diharapkan menjadi bekal untuk mengisi dan mewarnai sebelas bulan berikutnya.*

*Artikel ini dimuat di Koran Muria edisi Jum’at, 4 Juli 2014.

Categories: Motivasi Ibadah & Amal Shalih | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: