Hijrah dan Spirit Perubahan

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

IMG_20131105_141747fdsghsfdTidak terasa, kalenderium Islam telah bersulih, dari angka 1434 menjadi 1435. Setiap sulih tahun baru Islam atau tahun baru Hijriah, kita selalu diingatkan oleh peristiwa monumental hijrahnya Rasulullah Saw bersama para sahabatnya dari Kota Mekah menuju Yatsrib (Madinah). Ketika di Mekah, mereka dimarginalisasi, diintimidasi, dan dikriminalisasi oleh orang-orang kafir Quraisy, lalu Allah memerintahkan ummat Islam untuk berhijrah.

Hijrah yang terjadi pada tahun 622 M itulah yang kemudian menjadi titik balik transformasi umat Islam meraih kemenangan dan perubahan yang menyejarah. Di Madinah, Rasulullah dan para sahabatnya sukses membangun masyarakat ideal yang populer disebut masyarakat madani (civil society).

Hijrah secara bahasa berarti “tarku” yang berarti meninggalkan. Dikatakan hijrah ila syai’ berarti intiqal ilaihi ‘an ghairihi (berpindah kepada sesuatu dari sesuatu). Hijrah Nabi dan para sahabatnya yang bersifat makaniyah (pindah tempat) itu sudah tertutup. Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada lagi hijrah setelah penaklukan kota Mekah” (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, makna hijrah akan tetap kontekstual dalam bentuk spirit yang bersifat maknawiyah.

Rasulullah Saw bersabda, “Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah.” (HR. Bukhari).

Hijrah secara maknawi inilah yang masih tetap kontekstual dan relevan di segala ruang dan waktu. Hijrah dari perilaku jahiliyah yang gelap gulita menuju perilaku religius yang penuh keluhuran akhlak di bawah naungan cahaya keindahan ajaran Islam.

Hijrah maknawi inilah yang patut kita gelorakan di tengah kondisi bangsa Indonesia yang didera krisis karakter. Krisis kepemimpinan dan akhlak. Berita-berita korupsi pejabat negara berseliweran berkelindan dengan berita-berita perselingkuhan dan aksi mesum, baik yang dilakukan oleh pejabat negara maupun masyarakat umum, bahkan pelajar SMP.

Secara nasional, negeri ini harus melakukan hijrah massal. Melakukan trasnformasi menuju perubahan ke arah terciptanya potret ideal sebuah masyarakat yang dicita-citakan. Dari mana memulainya? Dari setiap individu yang sadar akan pentingnya segera menyelamatkan negeri ini dari kehancuran moral. Karena sukses bangsa hakikatnya adalah akumulasi sukses individu.

Caranya, setiap individu memastikan dirinya sendiri menjadi pribadi yang bersih atau setidaknya tidak menjadi bagian dari masalah bangsa. Dari kumpulan individu bersih dan tidak bermasalah itu, akan muncul keluarga-keluarga bersih, lalu seterusnya akan berevolusi secara masif dan progresif menjadi bangsa yang bersih.

Dalam Al-Qur’an ditegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Qs. At-Tahrim: 6).

Mengomentari ayat di atas, Amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib ra berkata: “Ajarkanlah kepada mereka adab dan tanamkanlah pada diri mereka kebaikan”.

Sedangkan Qotadah rahimahullah berkata: “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dan mencegah mereka bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah tehradap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut, dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka, maka hendaklah engkau menghardik mereka”.

Jadi, spirit perubahan yang bisa kita petik dari kontekstualisasi peristiwa hijrah saat ini adalah perlunya melakukan transformasi diri dan keluarga agar menjadi lebih baik, lebih kontrukstif, dan lebih religius. Penguatan peran dan fungsi keluarga sebagai unit terkecil sebuah bangsa perlu dikonsolidasi dan didinamisasi.

Setidaknya ada tujuh fungsi keluarga, yakni fungsi ekonomis, sosial, edukatif, protektif, religius, rekreatif, dan afektif. Fungsi ekonomis, keluarga merupakan satuan sosial yang mandiri, yang di situ anggota-anggota keluarga mengkonsumsi barang-barang yang diproduksinya. Fungsi sosial, keluarga memberikan prestise dan status kepada anggota-anggotanya.

Fungsi edukatif, keluarga memberikan pendidikan kepada anak-anak dan juga remaja. Fungsi protektif, keluarga melindungi anggota-anggotanya dari ancaman fisik, ekonomis, dan psiko-sosial. Fungsi religius, keluarga memberikan pengalaman keagamaan kepada anggota-anggotanya. Fungsi rekreatif, keluarga merupakan pusat rekreasi bagi anggota-anggotanya. Dan fungsi afektif, keluarga memberikan kasih sayang dan melahirkan keturunan. (Jalalaludin Rahmat, 2003: 121).

Keluarga akan kokoh, bila fungsi-fungsi itu berjalan seperti seharusnya. Apabila pelaksanaan fungsi itu dihilangkan atau dikurangi, maka terjadilah krisis keluarga. Banyak kasus demoralisasi, baik yang dilakukan oleh seorang istri, seorang suami, maupun seorang anak yang bermula dari krisis keluarga.

Korupsi yang dilakukan pejabat negara, perselingkuhan yang dilakukan seorang suami atau istri, juga kasus-kasus asusila dan pelanggaran etika yang dilakukan generasi muda bangsa, seperti seks pra nikah, tawuran antar pelajar, menyontek, tidak menghargai orang tua dan guru, dan lain-lain, bisa saja dan sering bermula dari krisis keluarga.

Sudah saatnya peran dan fungsi keluarga itu dikuatkan kembali, dikonsolidasi dan didinamisasi, untuk bangsa Indonesia yang lebih baik. Inilah spirit perubahan yang bisa kita petik dari makna hijrah kali ini. Selamat Tahun Baru Hijrah 1435 H. Semoga bermanfaat.*

Categories: Perspektif | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: