Mendudukkan Makna Hijab

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Sumber ilustrasi: http://api.ning.com

Sumber ilustrasi: http://api.ning.com

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba kata hijab menjadi populer. Hijab menjadi istilah yang dinisbatkan pada busana muslimah. Di berbagai daerah, muncul komunitas hijab yang menjadi ajang sharing, silaturahmi, dan mengkampanyekan pentingnya menutup aurat bagi seorang wanita muslimah.

Sebuah tren yang cukup membahagiakan mengingat setidaknya hal itu merupakan indikasi gairah keberagamaan yang meningkat. Hanya saja, saya sering dibuat tidak mengerti ikhwal bagaimana kata hijab bisa dinisbatkan pada busana muslimah. Dan pemakainya disebut hijaber. Padahal setahu saya, dulu di tahun 1980-an dan 1990-an, yang ngetren adalah kata jilbab, dan pemakainya disebut jilbaber.

Sejauh pembacaan saya, pemakaian kata hijab untuk busana muslimah tidak tepat, bahkan bertentangan dengan makna hijab dalam Al-Qur’an maupun hadits. Ayat-ayat yang menyebut kata hijab dalam Al-Qur’an maupun dalam hadits banyak sekali, namun maknanya merujuk pada “sesuatu yang menghalangi antara dua pihak hingga yang satu tidak dapat melihat yang lain sama sekali”.

Di antara ayat yang menyebut kata hijab adalah “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab (tabir). Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab: 53).

Di antara hadits yang menyebut kata hijab adalah sebuah riwayat yang menyebutkan, suatu saat paman susuan Aisyah (istri Nabi) datang hendak menemui Aisyah.  Namun Aisyah tidak berkenan dan tetap menemuinya dari balik hijab. Pamannya berkata, “Apakah engkau berhijab dariku padahal aku pamanmu?” Maka hal itu disampaikan kepada Rasulullah dan beliau bersabda kepada Aisyah, “Janganlah engkau berhijab darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hijab yang disebut dalam ayat dan hadits di atas adalah tirai atau tabir yang ada di rumah Rasulullah Saw dan dipasang untuk memisahkan majlis laki-laki dari majlis wanita. Jadi bukan merujuk kepada busana atau libas. Melainkan tirai yang memisah jamaah laki-laki dan perempuan.

Prof. Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tahrirul Mar’ah fi ‘Ashrir Risalah (1991) menyatakan, hijab merupakan adab khusus bagi istri-istri Nabi Saw dalam bergaul dengan laki-laki lain di dalam rumah. Hal itu dimaksudkan untuk membedakan mereka dari wanita-wanita mukmin lainnya dan untuk menghormati Rasulullah Saw.

Sehingga kata hijab yang dinisbatkan pada busana (libas) muslimah sesungguhnya tidaklah tepat dan cenderung dipaksakan. Jilbab atau kerudung (khimar) hemat saya lebih tepat, setidaknya ada pijakan ayatnya dalam Al-Qur’an. Wallahu a’lam. *

*Artikel ini dimuat di Koran Muria, edisi Kamis, 22 Agustus 2013.

Categories: Perspektif | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: