Kehormatan Pendakwah

1240558_233634140119337_2056940416_nOleh: Badiatul Muchlisin Asti

Perseteruan Ustaz Solmed (Sholeh Mahmud) dengan sebuah masjlis taklim yang dikelola Buruh Migrain Indonesia (BMI) di Hongkong baru-baru ini, memantik diskursus lama tentang fenomena “amplop” di kalangan da’i atau pendakwah. Namun, diskursus itu mengalami pergeseran dari “bolehkah seorang pendakwah menerima imbalan materi dari dakwahnya” ke “bolehkah seorang pendakwah memasang tarif untuk dakwahnya”.

Bila diskursus pertama domainnya ada pada pembahasan fiqh, maka diskursus kedua domainnya ada pada pembahasan kode etik (adab, akhlak). Diskursus pertama, sampai sekarang pun sebenarnya masih menyisakan polemik dan kontroversi. Sampai sekarang, masih ada ulama yang mengharamkan seorang pendakwah menerima “amplop”. Tapi pendapat yang menurut saya lebih masyhur dan diikuti kebanyakan ulama adalah boleh alias halal seorang pendakwah menerima “amplop” atau yang lazim disebut bisyarah.

Soal kemudian apakah “amplop” itu mempengaruhi niat, dikembalikan kepada kepribadian pendakwah masing-masing sesuai dengan kadar keikhlasan dan keimanannya yang akan berpengaruh kepada integritas dan independensinya dalam menyampaikan ilmu dan kebenaran tanpa dipengaruhi oleh imbalan materi.

Kuncinya memang terletak pada niat, sebagaimana sebuah hadits, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang problematis dan memantik sinisme adalah ketika seorang pendakwah sudah memasang tarif dalam dakwahnya. Karena bila sudah demikian, hampir dapat dipastikan, motif ekonomi sedikit banyak sudah merasuki, bahkan boleh jadi lebih mendominasi, motif si pendakwah dalam dakwahnya, ketimbang keikhlasan menegakkan dakwah.

Menurut hemat saya, menerima imbalan materi tidak haram bagi seorang pendakwah, namun kalau sudah memasang tarif dalam berdakwah, maka hal itu sudah merupakan pelanggaran kode etik dakwah yang bisa menciderai muru’ah (kehormatan, harga diri, kredibilitas) seorang pendakwah dan merusak citra dakwah.

Seorang pendakwah tentulah orang yang paham soal agama dan dinilai memiliki perilaku mulia yang menjadi rujukan umat, sehingga levelnya sudah tidak lagi semata pada tingkatan “halal-haram” sebagai pertimbangannya dalam bertindak, tapi sudah melampaui itu, yakni pada tingkatan menjaga muru’ah, yakni bertindak atas pertimbangan kode etik atau adab. Memasang tarif tentu merupakan tindakan yang tidak etis alias tidak beradab bagi seorang pendakwah.

 Idealnya seorang pendakwah memang steril dari motif ekonomi, sebagaimana yang dilakukan oleh para pendakwah dari kalangan para nabi dan rasul serta salafussaleh (orang-orang saleh terdahulu). Mereka tidak mengharap sedikit pun imbalan dari aktivitas dakwahnya.

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).’ Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat.” (QS. Al-An’am: 90).

Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”. (QS. Yunus: 72).

Di antara hikmah sterilnya seorang pendakwah dari motif ekonomi, sebagaimana dinyatakan oleh Dr. Setiawan Budi Utomo dalam bukunya Fiqih Aktual (2013) adalah, akan menghindarkan seorang pendakwah dari jebakan-jebakan dakwah yang akan menjerumuskan niat, risalah, maupun citranya pada keterpurukan berupa “pelacuran” dakwah dan perjuangan, persaingan rendah di jalan dakwah, berebut lahan dan popularitas secara rendah karena ketertarikan duniawi hingga menggeser niat dan keistiqamahan seorang pendakwah.

Ada setidaknya dua solusi yang bisa ditawarkan untuk mengantisipasi hal itu. Pertama; kehidupan para pendakwah idealnya dijamin oleh lembaga pemerintah atau yayasan/organisasi dakwah, sehingga seorang pendakwah tidak perlu berpikir bagaimana mencukupi kebutuhan hidupnya yang semakin hari semakin membengkak. Sehingga pergumulan antara kebutuhan pragmatis ekonomi dan idealisme dalam berdakwah tidak lagi mengalami benturan.

Bagaimana pun seorang pendakwah adalah manusia biasa yang punya keluarga (istri dan anak-anak), yang harus tercukupi secara baik segala kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Dan ini sangat manusiawi.

Namun pada praktiknya, solusi pertama di atas belum memungkinkan. Realitasnya, belum banyak lembaga/yayasan/organisasi dakwah yang konsen mengurusi kebutuhan finansial para pendakwah di negeri ini. Kalaupun ada, jumlahnya masih sangat terbatas.

Maka solusi keduanya adalah, agar para pendakwah memiliki sumber maisyah (penghidupan/ekonomi) sendiri di luar aktivitas dakwahnya, sehingga tidak menjadikan dakwah sebagai sumber mata pencahariannya. Bahkan bila perlu mereka membiayai aktivitas dakwahnya, tanpa sama sekali mengharap “amplop” dari dakwahnya. Bila ini bisa dilakukan, maka seorang pendakwah akan terhindar dari jebakan-jebakan dakwah yang dapat meruntuhkan kredibilitasnya sebagai pendakwah, memasung independensinya dalam menyiarkan agama, dan memurukkan citra dakwah yang diembannya.

Bila solusi kedua ini pun belum memungkinkan, dan seorang pendakwah terpaksa harus menerima “amplop” untuk menopang kebutuhan hidupnya, maka hendaknya ia tidak tamak dengan memasang tarif dakwah, tetap berusaha ikhlas dalam menyampaikan dakwahnya, serta terus waspada terhadap tergelincirnya diri pada jebakan dakwah yang justru bisa merusak kredibilitas dirinya dan syiar dakwah yang diembannya. Wallahu a’lam.

*Artikel ini dimuat di Suara Merdeka, edisi 31 Agustus 2013.

Categories: Perspektif | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: