Jilbab Perempuan Koruptor

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Ilustrasi

Ilustrasi

Salah seorang yang diduga menyerahkan uang sekitar Rp 3 miliar kepada Ketua MK non-aktif Akil Mochtar adalah Chairun Nisa, anggota Fraksi Golkar di DPR. Selain menjabat sebagai anggota DPR, wanita ini juga merupakan Wakil Bendahara Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Chairun Nisa adalah Wakil Bendaraha Majelis Ulama Indonesia Pusat. Masih aktif sekarang,” kata Ketua MUI Pusat Umar Shihab, seperti ditayangkan Liputan 6 Petang SCTV, Minggu (6/10/2013).

Kutipan berita yang sempat menyentak publik Indonesia itu, karena juga melibatkan ketua Mahkamah Konstitusi yang merupakan benteng terakhir keadilan rakyat, juga menyisakan diskursus lain. Yakni tentang perempuan berjilbab dan korupsi. Muncul sinisme tentang perempuan berjilbab, pengurus MUI lagi, tapi melakukan tindak tidak terpuji (baca: suap, korupsi) yang sudah pasti bertentangan dengan nilai-nilai syariat.

“Melihat Chairunnisa yang berjilbab dan MUI, wajar bila orang bertanya apakah jilbab dan agama menjauhkan orang dari maksiat,” tulis seorang dosen komunikasi sebuah perguruan tinggi di Jakarta pada status akun facebooknya.

Diskursus tentang jilbab dan kaitannya dengan perilaku tidak terpuji merupakan diskursus lama. Sejak dulu sudah muncul nada-nada sumbang tentang perempuan berjilbab namun masih juga melakukan tindakan tidak terpuji. Sehingga akhirnya muncul lontaran kalimat-kalimat sinisme seperti ini, “Mendingan nggak berjilbab tapi berperilaku baik, daripada berjilbab tapi berperilaku tidak baik.”

Sepintas memang sinisme itu wajar dan logis bila melihat realitas seperti itu. Tapi bila dibiarkan tanpa mencari duduk masalahnya, maka sinisme itu dapat semakin memperkuat skeptisme orang pada agama. Menjadikan orang gamang melakukan perintah agama. Toh menjalankan perintah agama tidak otomatis “menyulap” seseorang menjadi baik dan menjauhkan seseorang dari perilaku maksiat.

Psikolog sosial Gordon W. Alport menyebutkan dua macam cara beragama: Pertama; beragama secara ekstrinsik. Kedua; beragama secara intrinsik. Beragama secara ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live. Orang berpaling dari Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif–motif lain, kebutuhan akan status, rasa aman, dan harga diri. Orang-orang yang beragama dengan cara ini melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama, ia puasa, salat, naik haji, dan sebagainya—tetapi tidak di dalamnya. Kata Alport, cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Pada yang kedua, yang instrinsik, agama dipandang sebagai comprehensive commitmen dan diriving integrating motive, yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor pemandu (unifying factor). Cara beragama seperti ini terhunjam ke dalam diri pemeluknya. (Jalaluddin Rakhmat, 2013: 26).

Dua macam cara beragama yang dikemukakan Alport bisa menjadi bekal memahami berbagai fenomena paradoks atau ketidaksinkronan dalam realitas beragama di masyarakat. Masjid–masjid dibangun, peserta pengajian meluber, jumlah jamaah haji selalu meningkat, tren muslimah berjilbab juga semakin tinggi, tapi seiring dengan itu, angka kriminalitas dan korupsi juga melesat naik. Agama nyaris tak memiliki efek apa-apa dalam kehidupan manusia, baik pada tingkat individu maupun kolektif. Penyebabnya tiada lain adalah karena cara beragama yang hanya berhenti pada dimensi ritual atau aspek luar dari agama. Atau beragama yang ekstrinsik seperti yang dinyatakan Alport. 

Dalam konteks jilbab, cara beragama secara ekstrinsik tercermin ketika pemakai jilbab hanya menjadikan jilbab sebagai sekedar baju atau simbol keberagamaan saja. Jilbabnya tidak benar-benar melambangkan cara beragamanya atau menunjukkan komitmennya yang utuh (comprehensive commitmen) dalam beragama. Sehingga meski berjilbab, ia masih terlibat praktik-praktik perilaku tidak terpuji seperti suap dan korupsi.

Dengan pemahaman yang utuh seperti ini akan menjadikan kita tidak mudah terjebak pada sinisme yang berujung pada skeptisme terhadap perintah agama, terkhusus dalam konteks ini perintah berjilbab bagi perempuan muslimah. Bahkan akan membangkitkan “kesadaran baru” dan sampai pada kesimpulan yang lebih positif tentang sosok perempuan salehah dalam konteks ajaran Islam, yakni: “Perempuan muslimah yang salehah pasti berjilbab, tapi perempuan muslimah yang berjilbab belum tentu salehah.”. Wallahu a’lam.

*Artikel ini dimuat Koran Muria edisi Senin, 28 Oktober 2013.

Categories: Perspektif | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: