Eyang Subur dan Poligami dalam Islam

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Sumber ilustrasi: http://media.viva.co.id

Sumber ilustrasi: http://media.viva.co.id

Perseteruan Eyang Subur dengan mantan pengikutnya, Adi Bing Slamet Cs menyibak sisi lain kehidupan Eyang Subur, yakni tentang poligami. Diketahui Eyang Subur ternyata memiliki 8 orang istri yang hidup dalam satu rumah. Belakangan kedelapan istri Eyang Subur tampil serempak di acara talkshow di beberapa stasiun televisi swasta.

Menarik disimak karena poligami Eyang Subur dengan 8 orang istri tidak menimbulkan polemik tajam di kalangan masyarakat dan media, terutama aktivis feminisme. Tak banyak masyarakat yang bersuara kritis. Hal ini berbeda dengan poligami yang dilakukan Aa Gym. Meski poligami Aa Gym sesuai koridor syariat, menikah dengan dua istri, namun  poligami Aa Gym mendapat sorotan luas dari berbagai kalangan. Bahkan pamor Aa Gym yang kala itu bersinar terang, mendadak redup seredup-redupnya. Berpoligami seolah “dosa besar” yang najis untuk dilakukan.

Poligami memang syariat Islam yang sejauh ini sering dianggap tabu untuk didiskusikan, apalagi diterapkan. Sehingga banyak sisi-sisi syariat Islam tentang poligami yang sering disalahpahami. Terkuaknya kasus poligami Eyang Subur dengan 8 orang istri menjadi momentum tepat untuk mendudukkan poligami dalam spirit yang yang dikehendaki syariat Islam.

Penting untuk diketahui, aturan poligami telah ada dan telah dipraktikkan jauh sebelum datangnya Islam. Aturan poligami ini telah diketahui pula oleh kabilah-kabilah Arab pada masa jahiliyah, akan tetapi pada waktu itu belum ada ikatan-ikatan tertentu dan belum ada batas tertentu. Islam datang untuk memberikan aturan dan pembatasan yang jelas. Sehingga praktik poligami tidak membabi buta dan berpotensi merendahkan harkat martabat kaum perempuan.

Islam mensyariatkan poligami dan mengizinkan poligami dengan syarat-syarat di mana seseorang tidak boleh berpoligami tanpa memenuhi syarat-syarat tersebut. DR. Muhammad Asy-Syarif dalam bukunya Az-Zaujah Ats-Tsaniyah: Wahmun Am Haqiqatun menyebutkan 3 syarat, yakni: jumlah istri, kemampuan memberi nafkah, dan adil kepada seluruh istri.

Pertama; jumlah istri. Dari sebelumnya yang tidak terbatas, Islam membatasi maksimal 4 istri yang boleh dinikahi dalam waktu bersamaan. Beberapa riwayat hadits menyatakan hal tersebut. Diriwayatkan dari Qais bin Tsabit, bahwasannya ia berkata: tatkala saya masuk Islam, saya mempunyai 8 istri, lalu aku melaporkan hal tersebut kepada Nabi Saw, lalu beliau bersabda, “Pilihlah empat di antaranya.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain, Gailan bin Salamah masuk Islam sementara ia mempunyai 10 istri, maka Nabi Saw berkata kepadanya, “Pilihlah empat di antara mereka dan ceraikan selebihnya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Dan masih banyak riwayat lainnya.

Poin inilah yang dilanggar oleh Eyang Subur. Bila ia seorang muslim, hendaknya mematuhi aturan Islam tentang poligami dengan membatasi menikahi 4 istri saja. Karena selebihnya otomatis pernikahannya menjadi tidak sah di mata syariat.

Kedua; kemampuan menafkahi. Seorang suami yang berpoligami harus memiliki kemampuan memberi nafkah kepada istri-istri dan anak-anaknya. Syarat ini sifatnya wajib. Bila tiada memiliki syarat ini, maka tidak halal baginya berpoligami. Yang termasuk dalam nafkah adalah makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan-kebutuhan yang lazim. (DR. Muhammad Asy-Syarif, hlm. 77).

Ketiga; adil terhadap seluruh istri. Soal adil ini, DR. Muhammad Asy-syarif menyatakan, yang dimaksud adil adalah adil yang dapat direalisasikan oleh manusia, yaitu bersikap seimbang kepada seluruh istri dalam makan, minum, pakaian, tempat tinggal, bermalam dan dalam bermua’amalah sesuai dengan keadaan para istri. Adapun keadilan yang tak sanggup direalisasikan oleh manusia seperti cinta kasih dan kecenderungan hati, maka seorang suami tidak dituntut untuk melaksanakannya karena urusan ini bukan pilihan dan berada di luar kehendak manusia, dan manusia—tanpa ada keraguan—tidak terbebani kecuali apa yang dia sanggupi. (DR. Muhammad Asy-Syarif, hlm. 80).

Dalam poligami Nabi Muhammad Saw juga ditemukan fakta kecenderungan hati beliau kepada salah seorang istrinya, yakni Aisyah Ra. Namun kecenderungan hati itu tidak menghalangi beliau berlaku adil kepada seluruh istrinya. Sehingga kehidupan poligami beliau begitu indah dan mulia dengan segenap dinamikanya. Dalam sebuah riwayat beliau Saw pernah berdoa, “Ya Allah, inilah pembagianku terhadap apa yang aku miliki, maka janganlah Engkau mengazabku terhadap apa yang Engkau miliki dan tidak kumiliki.” (HR. At-Tirmidzi).

Poligami adalah bagian dari syariat Islam. Hendaknya poligami disikapi dengan jernih sesuai dengan aturan syariat Islam. Bila ada poligami yang gagal, tidak lantas dijadikan senjata untuk menggugat syariat ini. Karena bila ada poligami gagal, sesungguhnya juga tidak sedikit pernikahan monogami yang gagal. Begitu pula sebaliknya. Wallahu’alam.

Categories: Perspektif | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: