Mengembalikan Makna Silaturahmi

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Silaturahmi sebuah keluarga (Foto: BMA)

Silaturahmi sebuah keluarga (Foto: BMA)

Silaturahmi memiliki sejumlah fadhilah (keutamaan) yang agung. Di antara keutamaan itu termaktub dalam sabda Nabi SAW, “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan, oleh Nabi SAW, silaturahmi disebut sebagai bagian dari keimanan. Nabi SAW bersabda,“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari).

Di samping fadhilah dan kabar gembira, silaturahmi juga meniscayakan adanya ancaman bagi pemutusnya. Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sabda Nabi Saw yang lain yang senada, “Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga, yaitu: peminum khamr (minuman keras), pemutus tali silurahmi, dan orang yang membenarkan perbuatan sihir.” (HR. Ibnu Hibban).

Lalu apa makna “silaturahmi” yang dikehendaki oleh syariat—yang pelakunya akan memperoleh sejumlah fadhilah dan pemutusnya mendapat ancaman seperti yang dinyatakan oleh hadits-hadits di atas?

Umumnya, istilah silaturahmi sering diluaskan maknanya menjadi aktivitas mengunjungi rumah seseorang, walau di antara mereka tidak ada hubungan kekerabatan. Karenanya, mengunjungi rumah sahabat atau teman atau kenalan baru, dimaknai sebagai silaturahmi. Bahkan mengunjungi rumah seseorang yang tidak dikenal pun, dengan tujuan untuk mendapatkan dukungan politik atau mengajak berbisnis, juga dimaknai sebagai silaturahmi.

Padahal tidak seperti itu makna silaturahmi yang dikehendaki syariat. Silaturahmi, atau yang tepat seharusnya disebut dengan silaturahim, adalah kata majemuk yang terambil dari kata bahasa Arab, shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata washl yang berarti “menyambung” dan “menghimpun”. Ini berarti hanya yang putus dan terserak yang dituju oleh shilat ini.

Nabi Saw bersabda, “Bukan silaturahmi orang yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasullah juga bersabda, “Bukanlah bersilturahmi orang yang membalas kunjungan atau pemberian, akan tetapi orang yang bersilaturahmi adalah orang yang jika kamu memutus hubungan darinya ia menyambungnya.” (HR. Bukhari).

Sedangkan kata rahim pada mulanya berarti “kasih sayang”, kemudian berkembang sehingga berarti pula “peranakan” (kandungan), karena anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang.

Sehingga makna silaturahmi yang dikehendaki syariat sesungguhnya hanya berlaku untuk upaya kita menyambung kembali hubungan (yang terputus) dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan kita, baik dari jalur ayah maupun ibu. Makna silaturahmi seperti inilah yang mengandung berbagai fadhilah yang agung dan pemutusnya mendapatkan ancaman yang besar di sisi Allah SWT. Wallahu a’lam.*

Categories: Motivasi Ibadah & Amal Shalih | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: