Menyelami Hakikat Memaafkan

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Maaf-memaafkan di hari lebaran (Foto: BMA)

Maaf-memaafkan di hari lebaran (Foto: BMA)

Halal bihalal merupakan tradisi umat Islam Indonesia yang diadakan setiap bulan Syawal. Tradisi ini khas Indonesia. Istilah halal bihalal sendiri tidak ditemukan dalam Al-Qur’an maupun hadis. Bahkan pengertiannya boleh jadi sulit dipahami oleh orang yang bukan bangsa Indonesia, walau ia seseorang yang mengerti bahasa Arab dan paham ajaran agama.

Halal bihalal sesungguhnya hanyalah istilah bernuansa Arab yang berarti “saling menghalalkan” atau “saling memaafkan” satu sama lain atas kesalahan yang mungkin telah dilakukan oleh kedua belah pihak. Pada praktiknya, halal bihalal dilakukan dalam bentuk seremonial pada skala keluarga, kantor, dan institusi lainnya. Karena seremonial, saling maaf-memaafkannya seringkali hanya berhenti pada seremoni belaka. Formalitas an sich.

Memaafkannya boleh jadi hanya sebatas ucapan di mulut, tidak sampai menembus ke hati. Padahal bila menyelami hakikat memaafkan, kita akan tahu bahwa memaafkan itu ternyata tidak hanya sekedar ucapan di mulut belaka, tapi harus menembus ke relung hati.

Dr. M. Quraish Shihab dalam buku “Membumikan Al-Qur’an” (1999) menyatakan, kata maaf berasal dari bahasa Al-Qur’an al-afwu yang berarti “menghapus” karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu di dalam hati, bila masih ada dendam yang membara.

Memaafkan dengan begitu merupakan kerja hati yang cukup berat, karena ia harus benar-benar berupaya menghilangkan segala noda kesalahan orang lain dari relung hatinya. Sulit memang, tapi bisa diupayakan. Caranya, dengan terus-menerus mengkondisikan hati agar benar-benar bisa mengikhlaskan kesalahan orang lain alias memaafkannya.

Bila itu berhasil dilakukan, maka seseorang itu akan bisa mencapai martabat sebagai seorang muttaqin (orang yang bertakwa), yang salah satu cirinya adalah “yang memafkan kesalahan orang lain” (wal ‘afiina ‘aninnaas). Dan karenanya, ia berhak memperoleh tiket menuju ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134).*

Categories: Motivasi Ibadah & Amal Shalih | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: