“Hadiah Spesial” untuk Pemimpin Adil

Oleh: Badiatul Muchlisin Asti

Pemimpin akan dimintai pertanggungjawan. [foto: http://4.bp.blogspot.com)

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi dalam rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Daerah di Jakarta menyatakan, ada 155 kepala daerah yang tersangkut masalah hukum, 17 orang di antaranya adalah gubernur. Hampir setiap pekan, seorang kepala daerah ditetapkan sebagai tersangka. (Kompas, 18/1/2011). Sementara itu, berdasarkan catatan Kompas, hanya 5 dari 33 provinsi di Indonesia yang hingga Minggu (23/1) tak ada kepala daerahnya yang terjerat perkara hukum. (Kompas, 24/1/2011).
Fakta di atas, selain sangat menyentak keprihatinan kita, juga meneguhkan keyakinan, bahwa menjadi pemimpin atau pejabat negara memang berat. Ia tidak hanya berkonsekuensi dunia, tapi juga akhirat. Bila ia mampu menjalankan amanahnya sebagai pemimpin dengan adil, maka di dunia ia akan mengukir nama harum yang akan selalu dikenang. Sedang di akhirat, ia akan mendapat “hadiah spesial” dari Allah, sebagaimana sabda Nabi Saw, “Pemimpin yang adil itu akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.” (HR. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ahmad, dan Ibnu Hibban).
Sebaliknya, bila ia tidak mampu menjalankan amanah sebagai pemimpin dengan adil, bahkan berbuat dzalim, menipu, dan berkhianat, maka di dunia ia akan berhadapan dengan hukum dan nama baiknya akan hancur. Dan di akhirat, ia diancam neraka, sebagaimana sabda Nabi Saw, “Pemimpin mana saja yang menipu rakyatnya, maka tempatnya adalah neraka.” (HR.Ahmad).
Nabi Saw juga bersabda, “Seorang hamba yang dipercaya oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, tetapi ia menipu rakyat, maka jika ia mati, Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karenanya, dalam Islam, jabatan disikapi sebagai amanah, bukan anugerah. Ia akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah Swt. Resapilah peringatan Rasulullah Saw, “Sesungguhnya kalian akan sangat menginginkan kepemimpinan, padahal itu akan menjadi penyesalan di hari kiamat kelak.” (HR. Bukhari, Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi). [*]

Categories: Motivasi Ibadah & Amal Shalih | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: